Thursday, 14 November 2019

PELANGI DI PANTAI KLU

Pelangi di Pantai KLU
KLU (Kabupaten Lombok Utara) dengan sejuta daya pikatnya berhasil membuat raga dan jiwa yang perlahan mulai kehilangan semangat untuk beranjak dari singgasananya (kamar). Berbekal rasa ingin tahu dan senyum yang terselipkan do’a dari Umi tercinta,  dan tentunya ditemani sang pujaan hati. Dinda melesat bak permadani Aladin menyusuri jalan dengan pemandangan pantai senggigi yang memikat hati.
 Air Tuhan turun untuk pertama-kalinya, menandakan musim hujan (yang katanya orang jomblo “ musim untuk mengenang”) telah dimulai. Namun tidak sedikitpun  menyurutkan semangat untuk memuaskan rasa ingin tahu yang semakin bergejolak berpacu dengan motor kesayangan  “Dinda” yang semakin cepat melaju. Senyum manis di balik kaca, dan garis indah pelangi di pantai KLU membuat hati tak karuan. Ah sial, realita memaksa ekspektasi untuk bergegas meninggalkan pikiran bocah yang mulai ngelantur.
Kantong plastik hitam berisi buah tangan tiba di pangkuan tuan rumah, menandakan perjalanan telah sampai. Secangkir teh hangat disuguhkan dan sebatang rokok menjadi pelengkap. Bukan orang Sasak namanya jikalau tidak menjamu tamu dengan hangat dan penuh tatakrama. Tanpa berlarut dalam hangatnya jamuan, Pak Raden sang pemilik rumah menuntun beberapa remaja tersebut ke salah satu rumah tokoh adat desa Bentek yang berama Mamiq Hasan.
“Ampure Mamiq, ape aran ritual Nyeput/bejeput/bedemak?” mohon maaf sebelumnya pak, ritual nyeput itu apa ya? tanya salah seorang pemuda. Memang dari jauh-jauh hari kepala mereka dipenuhi dengan pertanyaan seputar ritual “Nyeput” yang belum bisa terjawab sepenuhnya. Karena prinsip mereka ialah hal-hal berbau adat-istiadat, sejarah, dan khazanah negeri harus digali dan didapatkan melalui sumber yang jelas dan tidak sembarang. Pelaku sejarah, tokoh adat, dan sastrawan menjadi fokus narasumber mereka.
Ritual Nyeput naskah kuno merupakan ritual membaca naskah kuno dengan cara memilih secara acak terlebih dahulu bagian naskah kuno/takepan atau biasa disebut “pupuh” tanpa melihat takepan tersebut. Sebelum melakukan ritual Nyebut, dianjurkan untuk bersuci terlebih dahulu dan meluruskan niat serta membersihkan hati dari hal-hal yang buruk. karena konon katanya, bagian/pupuh yang ditunjuk berhubungan dengan masa sekarang ataupun masa depan orang tersebut. Naskah yang digunakan dalam tradisi Nyeput banyak ragamnya, salah satunya ialah naskah Rengganis. Rengganis merupakan takepan yang sebagian besar isinya membahas tentang kisah asmara Dewi Rengganis, serta hubungan alam dan manusia menjadi warna dalam naskah ini.
Mamiq Hasan memberikan kesempatan untuk melakukan ritual Nyeput. Maju satu langkah mendekati sang pemilik naskah menjadi tanda bahwa kesempatan langka ini tidak boleh disia-disiakan.  Mata dipejamkan, dan dengan satu tarikan nafas panjang menandakan kesiapan untuk memulai ritual, hingga pada akhirnya jari telunjuk berhenti tepat di pupuh asmarandana.tembang asmarandana terdiri dari delapan baris. Asmarandana berasal dari kata “asmara” yang berarti cinta kasih. Filosofi tembang asmarandana adalah tentang perjalanan hidup seseorang yang telah tiba waktunya untuk memadu cinta kasih bersama pasangan hidupnya.
  Tembang asmarandana mulai ditembangkan oleh pemaos (penembang) dengan nada dan irama khasnya. Hingga sampai pada penjelasan dari sang pemaos. Menutur beliau, makna dari tembang yang ditunjuk ialah tentang bagaimana kisah asmara yang berujung pada perjodohan oleh orang tua dengan wanita pilihan mereka hingga proses menuju kesuksesan. Karakter yang keras dan berwibawa, serta sifat memerintah merupakan bekal utama untuk mendapatkan kekuasaan di masa mendatang. Bantuan atau campur tangan keluarga berperan besar dalam kesuksesan meraih posisi yang diinginkan.
Seperti itulah sedikit penjelasan mengenai ritulual nyeput naskah kuno, selanjutnya mengenai ritual nyeput jika dihubungkan dengan ilmu kebahasaan atau ilmu linguistik dapat dikaji dengan pendekatan pragmatik, dimana pragmatik yaitu ilmu yang mempelajari tentang hubungan konteks luar bahasa dengan maksud tuturan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana cerita-cerita yg dituturkan dalam naskah kuno tersebut dapat dimaknai secara lebih luas dan dikaitkan dengan kehidupan sekarang, dan bagaimana cerita-cerita didalam naskah tersebut dapat digunakan untuk nasehat hidup.

Friday, 25 October 2019

PERJALANAN MENCARI KHAZANAH NEGERI






Sabtu, 19 oktober 2019. Tepatnya pukul 14.00 WITA perjalanan menuju Desa Lenek, Kec. Masbagik, Kab. Lombok Timur bermula. Sebuah perjalanan untuk menjadi manusia yang SADAR dengan mencari dan menelusuri khazanah-khazanah negeri ini. Kearifan lokal, Sumber Daya Manusia masa lampau, pemikiran-pemikiran para leluhur, serta kefilsufannya yang sederhana tentang kehidupan yang dituangkan dan disampaikan dengan sederhana pula dalam sebuah daun lontar. Yang dimana dewasa ini kita kenal dengan naskah kuno.
Sudah tidak diragukan lagi, Suku Sasak merupakan salah satu suku di Indonesia yang sangat kaya akan budaya dan kearifan lokalnya. Terlihat dan tergambar jelas selama perjalanan menuju tempat tujuan. Ritual nyongkolan salah satunya. Merupakan suatu ritual sakral yang dilakukan oleh suku Sasak pada saat dua insan telah bersatu membentuk sebuah keluarga yang disahkan dalam akad nikah. Seakan terbawa suasana, jiwa dan pikiran melambung tinggi ke awan. Membayangkan suatu hari akan tiba saatnya merasakan hal luar biasa seperti kedua insan yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka dengan senyum merekah di pipi yang terbalut riasan pengantin. Tapi tunggu dulu, moment indah itu masih belum saatnya. Jiwa dan pikiran kembali ke realitsanya dan kembali fokus dengan tujuan.
Dengan kondisi fisik yang sudah mulai menurun karena jauhnya perjalanan, malampun dihabiskan dengan beristirahat di sebuah rumah teman yang diselingi dengan canda tawa bersama teman seperjalanan.
Kicauan burung kondor dan hangatnya matahari pagi seakan memberi isyarat untuk bergegas menuntaskan perjalanan kali ini. Semua persaiapan sudah dilakukan, dan perjalananpun berlanjut. Tanpa butuh waktu yang lama, tempat tujuanpun sudah berada di depan mata. Dengan segelas teh hangat dan senyuman, Papuq Nadil dan keluarga menyambut dengan hangat pula.
Papuq Nadil adalah tokoh masyarakat desa tersebut yang sangat disegani. Beliau merupakan salah seorang sastrawan sekaligus tokoh agama dengan gaya hidup yang sederhana. Tak seperti kebanyakan orang biasanya, beliau sangat terbuka dan senang berbagi dengan orang lain. Terbukti dari sambutan belian yang disertai dengan pembukaan naskah kuno yang beliau miliki. Naskah yang merupakan tujuan lawatan ke rumah belian yang seakan sudah tau terlebih dahulu maksud dan tujuan para tamunya.
Beliau memilki dua buah naskah kuno yang konon menurut beliau bernama KAWITAN dan LAMBAN MONYEH. KAWITAN merupakan naskah kuno yang berisikan tentang ajaran-ajaran agama dan hasil pemikiran leluhur yang dibahasakan dengan sederhana. Filosofi-filosofi kehidupan tertuang dalam naskah kuno tersebut. Mulai dari  bagaimana kita berinteraksi sesama manusia hingga bagaimana kita berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta. Cara membaca naskah kuno ini pun tidak sembarangan, harus dengan NEMBANG. Yaitu membaca dengan berirama dan intonasi-intonasi khas. Sedangkan LAMBAN MONYEH merupakan tulisan kuno yang sebagian besar menceritakan tentang kehidupan-kehidupan suku Sasak. Dalam pembacaannya pun berbeda, harus diiringi dengan gendang dan musik khas sasak  lainnya dan biasanya dibacakan pada saat ritual-ritual tertentu.
Dengan mencari dan mempelajari khazanah-khazanah negeri ini, diharapkan seomga kita menjadi manusia yang sadar. Maksudnya ialah manusia yang sadar akan siapa kita sebenarnya, darimana, dan dari siapa kehidupan ini bermula. Hingga pada akhirnya, bagaimana kita bisa menjaga dan melestarikan kekayaan yang dimiliki negeri ini.