KLU (Kabupaten Lombok Utara) dengan sejuta daya pikatnya berhasil membuat raga dan jiwa yang perlahan mulai kehilangan semangat untuk beranjak dari singgasananya (kamar). Berbekal rasa ingin tahu dan senyum yang terselipkan do’a dari Umi tercinta, dan tentunya ditemani sang pujaan hati. Dinda melesat bak permadani Aladin menyusuri jalan dengan pemandangan pantai senggigi yang memikat hati.
Air Tuhan turun untuk pertama-kalinya, menandakan musim hujan (yang katanya orang jomblo “ musim untuk mengenang”) telah dimulai. Namun tidak sedikitpun menyurutkan semangat untuk memuaskan rasa ingin tahu yang semakin bergejolak berpacu dengan motor kesayangan “Dinda” yang semakin cepat melaju. Senyum manis di balik kaca, dan garis indah pelangi di pantai KLU membuat hati tak karuan. Ah sial, realita memaksa ekspektasi untuk bergegas meninggalkan pikiran bocah yang mulai ngelantur.
Kantong plastik hitam berisi buah tangan tiba di pangkuan tuan rumah, menandakan perjalanan telah sampai. Secangkir teh hangat disuguhkan dan sebatang rokok menjadi pelengkap. Bukan orang Sasak namanya jikalau tidak menjamu tamu dengan hangat dan penuh tatakrama. Tanpa berlarut dalam hangatnya jamuan, Pak Raden sang pemilik rumah menuntun beberapa remaja tersebut ke salah satu rumah tokoh adat desa Bentek yang berama Mamiq Hasan.
“Ampure Mamiq, ape aran ritual Nyeput/bejeput/bedemak?” mohon maaf sebelumnya pak, ritual nyeput itu apa ya? tanya salah seorang pemuda. Memang dari jauh-jauh hari kepala mereka dipenuhi dengan pertanyaan seputar ritual “Nyeput” yang belum bisa terjawab sepenuhnya. Karena prinsip mereka ialah hal-hal berbau adat-istiadat, sejarah, dan khazanah negeri harus digali dan didapatkan melalui sumber yang jelas dan tidak sembarang. Pelaku sejarah, tokoh adat, dan sastrawan menjadi fokus narasumber mereka.
Ritual Nyeput naskah kuno merupakan ritual membaca naskah kuno dengan cara memilih secara acak terlebih dahulu bagian naskah kuno/takepan atau biasa disebut “pupuh” tanpa melihat takepan tersebut. Sebelum melakukan ritual Nyebut, dianjurkan untuk bersuci terlebih dahulu dan meluruskan niat serta membersihkan hati dari hal-hal yang buruk. karena konon katanya, bagian/pupuh yang ditunjuk berhubungan dengan masa sekarang ataupun masa depan orang tersebut. Naskah yang digunakan dalam tradisi Nyeput banyak ragamnya, salah satunya ialah naskah Rengganis. Rengganis merupakan takepan yang sebagian besar isinya membahas tentang kisah asmara Dewi Rengganis, serta hubungan alam dan manusia menjadi warna dalam naskah ini.
Mamiq Hasan memberikan kesempatan untuk melakukan ritual Nyeput. Maju satu langkah mendekati sang pemilik naskah menjadi tanda bahwa kesempatan langka ini tidak boleh disia-disiakan. Mata dipejamkan, dan dengan satu tarikan nafas panjang menandakan kesiapan untuk memulai ritual, hingga pada akhirnya jari telunjuk berhenti tepat di pupuh asmarandana.tembang asmarandana terdiri dari delapan baris. Asmarandana berasal dari kata “asmara” yang berarti cinta kasih. Filosofi tembang asmarandana adalah tentang perjalanan hidup seseorang yang telah tiba waktunya untuk memadu cinta kasih bersama pasangan hidupnya.
Tembang asmarandana mulai ditembangkan oleh pemaos (penembang) dengan nada dan irama khasnya. Hingga sampai pada penjelasan dari sang pemaos. Menutur beliau, makna dari tembang yang ditunjuk ialah tentang bagaimana kisah asmara yang berujung pada perjodohan oleh orang tua dengan wanita pilihan mereka hingga proses menuju kesuksesan. Karakter yang keras dan berwibawa, serta sifat memerintah merupakan bekal utama untuk mendapatkan kekuasaan di masa mendatang. Bantuan atau campur tangan keluarga berperan besar dalam kesuksesan meraih posisi yang diinginkan.
Seperti itulah sedikit penjelasan mengenai ritulual nyeput naskah kuno, selanjutnya mengenai ritual nyeput jika dihubungkan dengan ilmu kebahasaan atau ilmu linguistik dapat dikaji dengan pendekatan pragmatik, dimana pragmatik yaitu ilmu yang mempelajari tentang hubungan konteks luar bahasa dengan maksud tuturan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana cerita-cerita yg dituturkan dalam naskah kuno tersebut dapat dimaknai secara lebih luas dan dikaitkan dengan kehidupan sekarang, dan bagaimana cerita-cerita didalam naskah tersebut dapat digunakan untuk nasehat hidup.

