Friday, 25 October 2019

PERJALANAN MENCARI KHAZANAH NEGERI






Sabtu, 19 oktober 2019. Tepatnya pukul 14.00 WITA perjalanan menuju Desa Lenek, Kec. Masbagik, Kab. Lombok Timur bermula. Sebuah perjalanan untuk menjadi manusia yang SADAR dengan mencari dan menelusuri khazanah-khazanah negeri ini. Kearifan lokal, Sumber Daya Manusia masa lampau, pemikiran-pemikiran para leluhur, serta kefilsufannya yang sederhana tentang kehidupan yang dituangkan dan disampaikan dengan sederhana pula dalam sebuah daun lontar. Yang dimana dewasa ini kita kenal dengan naskah kuno.
Sudah tidak diragukan lagi, Suku Sasak merupakan salah satu suku di Indonesia yang sangat kaya akan budaya dan kearifan lokalnya. Terlihat dan tergambar jelas selama perjalanan menuju tempat tujuan. Ritual nyongkolan salah satunya. Merupakan suatu ritual sakral yang dilakukan oleh suku Sasak pada saat dua insan telah bersatu membentuk sebuah keluarga yang disahkan dalam akad nikah. Seakan terbawa suasana, jiwa dan pikiran melambung tinggi ke awan. Membayangkan suatu hari akan tiba saatnya merasakan hal luar biasa seperti kedua insan yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka dengan senyum merekah di pipi yang terbalut riasan pengantin. Tapi tunggu dulu, moment indah itu masih belum saatnya. Jiwa dan pikiran kembali ke realitsanya dan kembali fokus dengan tujuan.
Dengan kondisi fisik yang sudah mulai menurun karena jauhnya perjalanan, malampun dihabiskan dengan beristirahat di sebuah rumah teman yang diselingi dengan canda tawa bersama teman seperjalanan.
Kicauan burung kondor dan hangatnya matahari pagi seakan memberi isyarat untuk bergegas menuntaskan perjalanan kali ini. Semua persaiapan sudah dilakukan, dan perjalananpun berlanjut. Tanpa butuh waktu yang lama, tempat tujuanpun sudah berada di depan mata. Dengan segelas teh hangat dan senyuman, Papuq Nadil dan keluarga menyambut dengan hangat pula.
Papuq Nadil adalah tokoh masyarakat desa tersebut yang sangat disegani. Beliau merupakan salah seorang sastrawan sekaligus tokoh agama dengan gaya hidup yang sederhana. Tak seperti kebanyakan orang biasanya, beliau sangat terbuka dan senang berbagi dengan orang lain. Terbukti dari sambutan belian yang disertai dengan pembukaan naskah kuno yang beliau miliki. Naskah yang merupakan tujuan lawatan ke rumah belian yang seakan sudah tau terlebih dahulu maksud dan tujuan para tamunya.
Beliau memilki dua buah naskah kuno yang konon menurut beliau bernama KAWITAN dan LAMBAN MONYEH. KAWITAN merupakan naskah kuno yang berisikan tentang ajaran-ajaran agama dan hasil pemikiran leluhur yang dibahasakan dengan sederhana. Filosofi-filosofi kehidupan tertuang dalam naskah kuno tersebut. Mulai dari  bagaimana kita berinteraksi sesama manusia hingga bagaimana kita berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta. Cara membaca naskah kuno ini pun tidak sembarangan, harus dengan NEMBANG. Yaitu membaca dengan berirama dan intonasi-intonasi khas. Sedangkan LAMBAN MONYEH merupakan tulisan kuno yang sebagian besar menceritakan tentang kehidupan-kehidupan suku Sasak. Dalam pembacaannya pun berbeda, harus diiringi dengan gendang dan musik khas sasak  lainnya dan biasanya dibacakan pada saat ritual-ritual tertentu.
Dengan mencari dan mempelajari khazanah-khazanah negeri ini, diharapkan seomga kita menjadi manusia yang sadar. Maksudnya ialah manusia yang sadar akan siapa kita sebenarnya, darimana, dan dari siapa kehidupan ini bermula. Hingga pada akhirnya, bagaimana kita bisa menjaga dan melestarikan kekayaan yang dimiliki negeri ini.

6 comments: